Halaman

Minggu, 18 Januari 2015

Bakrie and Brothers Konversi Utang Jadi Saham

Manajemen PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) tengah bernegosiasi dengan sejumlah pihak untuk merestrukturasi sebagian utang sekitar Rp 5,2 triliun.
Mengutip keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (15/1/2015), Direktur PT Bakrie and Brothers Tbk, Sri Dharmayanti menuturkan, perkiraan nilai utang yang akan dikonversi menjadi saham sebesar Rp 4,5 triliun-Rp 5,2 triliun.
Ia menuturkan, pelaksanaan rencana konversi utang itu menjadi saham pada 2015. Untuk melunasi utang itu, perseroan akan meminjam dana dari bank, dan menjual sejumlah aset perseroan.
Dalam penjelasannya ke otoritas bursa, PT Bakrie and Brothers Tbk juga memiliki sejumlah proyek infrastruktur antara lain:
1. PLTU Tanjung Jati A senilai Rp 29 triliun
Proyek itu diharapkan selesari 2019 untuk unit 1, dan tahun 2020 untuk unit 2. Saat ini perseroan menghadapi relokasi proyek dan peraturan harga jual listrik. Kini perseroan telah menemukan lokasi baru proyek di Cirebon.
2. Jalan Tol Cimanggis-Cibitung senilai Rp 4,52 triliun
Proyek itu diharapkan selesai 2018-2019. Perseroan menghadapi pembebasan lahan untuk jalan tol Cimanggis-Cibitung. Menurut perseroan, proyek ini telah diatasi dengan terbitnya Undang-undang Pembebasan Lahan pada 2012.
3. Pipa Gas Kalija senilai Rp 2,5 triliun untuk tahap I
Proyek ini diharapkan selesai 2015 untuk tahap I, dan tahun 2019-2020 untuk tahap kedua. Perseroan menghadapi kendala pada sumber gas dari Kalimantan Timur.
4. Peningkatan Kapasitas Produksi Bahan Bangunan dan Komponen Otomotif senilai Rp 3 triliun
Proyek ini diharapkan selesari pada 2018-2019. Hambatan proyek ini berupa penguasaan dan investasi modal untuk teknologi baru. (Ahm/)

sumber:http://bisnis.liputan6.com/read/2161412/bakrie-and-brothers-konversi-utang-jadi-saham

Banting Harga, Elpiji 12 Kg Kini Dijual Rp 129 Ribu per Tabung

Tak hanya premium dan solar, harga elpiji 12 kilogram (kg) yang dijual PT Pertamina (Persero) juga ikut turun harga mulai Senin 19 Januari 2015. Harga elpiji 12 kg turun menjadi Rp 129 ribu per tabung, dari sebelumnya Rp 134.700 per tabung.
Menteri Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said sebelumnya mengungkapkan, penurunan harga elpiji non subsidi 12 kg bertujuan untuk meringankan beban perekonomian.
"Pertamina melaporkan pada regulator pemegang sahamnya, saya laporkan presiden.  Memberi stimulus supaya perekonomian adem," kata Sudirman di Jakarta.
Sudirman menambahkan, penurunan harga elpiji non subsidi yang dibungkus dengan tabung berkelir biru tersebut juga dipengaruhi oleh harga minyak dunia yang merosot.
"Harusnya berhubungan dengan minyak ada penurunan komponen cost, supaya memberi dorongan industri pasar," tutur Sudirman.
Seperti diketahui, mulai Senin 19 Januari 2015, harga premium turun menjadi Rp 6.600 per liter. Harga solar turun menjadi Rp 6.400 per liter. Harga elpiji 12 kg turun 129 ribu dari Rp 134.700 per tabung. Tak hanya itu saja, harga semen yang diproduksi oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) turun Rp 3.000 per sak. (Ndw)

Sumber:http://bisnis.liputan6.com/read/2162820/banting-harga-elpiji-12-kg-kini-dijual-rp-129-ribu-per-tabung

Harga Minyak Turun, RI Reguk Untung Rp 25 Triliun

Pemerintah diprediksi bakal mereguk untung sekitar Rp 25 triliun dari turunnya harga minyak dunia di pasar internasional sepanjang tahun ini.
Menurut Founder ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, turunnya harga minyak secara fiskal masih menguntungkan Indonesia karena subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang dikucurkan pemerintah semakin berkurang. 
Keuntungan bertambah besar karena pemerintah telah menerapkan subsidi tetap sehinggadana subsidi BBM yang bisa dihemat pemerintah sekitar Rp 200 triliun dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Namun di sisi lain, penerimaan negara dari sektor minyak dan gas (migas) bakal merosot hingga 60 persen atau sekitar Rp 175 triliun karena turunnya harga jual minyak yang diproduksi Indonesia.
"Sehingga secara total akhirnya masih positif bagi Indonesia dengan turunnya harga minyakyaitu sekitar Rp 25 triliun," kata Pri Agung saat berbincang dengan Liputan6.com, Senin (19/1/2015). 
Hal lain yang perlu diwaspadai pemerintah yaitu turunnya harga komoditas bahan mentah lainnya seperti batu bara dan mineral yang menjadi andalan ekspor Indonesia. 
"Karena harga minyak ini dalam konteks perekonomian dunia jadi acuan komoditas lain seperti batu bara. Itu (turunnya harga komoditas lain) belum dihitung berapa dampaknya ke APBN kita," ungkap dia. (Ndw)

sumber:http://bisnis.liputan6.com/read/2162894/harga-minyak-turun-ri-reguk-untung-rp-25-triliun

OPEC Ogah Pangkas Produksi Minyak, Industri Tambang Jadi Korban

 Negara-negara penghasil minyak terbesar di dunia yang tergabung dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) hingga saat ini masih mempertahankan keputusannya untuk tidak memangkas volume produksinya. Keputusan itu tetap diambil bahkan saat harga minyak telah melemah ke level terendah dalam lebih dari lima tahun terakhir.
Dalam kondisi seperti ini, tentu saja para pengusaha di industri tambang yang akan menjadi korban.
Mengutip laman Bloomberg, Senin (19/1/2015), mulai dari pasar batu bara hingga bijih besi harus merasakan dampak negatif dari penurunan harga minyak. Pasalnya para pemasok tetap meningkatkan volume produksi bahkan saat harganya turun.
Saat ini pasokan bijih besi dan berbagai komoditas tambang lainnya terus membludak sementara dan para pelaku usaha tambang harus mengorbankan untungnya. Itu agar para pengusaha tetap dapat memperoleh penghasilan dan meredakan persaingan ketat dengan pengusaha lain.
Harga batu bara yang digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik serta batu bara yang menjadi bahan utama pembuatan baja kini telah merosot hingga lebih dari 50 persen sejak 2011. Penambahan pasokan dan penurunan permintaan dari China yang merupakan konsumen komoditas terbesar juga semakin menekan harga batu bara.
Dengan OPEC yang bertahan tidak memangkas produksi dan meningkatnya pasokan minyak di AS, pasar minyak akan terus menebarkan derita pada industri lain.
"Jika OPEC sekarang dan nanti tetap bersikukuh dengan keputusannya, maka apa yang terjadi pada industri komoditas lain dapat menjadi sebuah peringatan," ujar Analis Sumber Daya Alam di Fat Prophets David Lennox. (Sis/Ndw)

sumber:http://bisnis.liputan6.com/read/2162895/opec-ogah-pangkas-produksi-minyak-industri-tambang-jadi-korban

Harga Emas Antam Naik Lagi Rp 7.000 per Gram

Membuka perdagangan pekan ini, harga emas yang dijual PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali naik Rp 7.000 menjadi Rp 560 ribu per gram pada Senin (19/1/2015).
Sementara harga pembelian kembali (buyback) juga tercatat naik Rp 7.000 menjadi Rp 496 ribu per gram. Antam menjual emas dari ukuran 1 gram hingga 500 gram. Hingga pukul 08.30 WIB, semua ukuran masih tersdia.
Mengingat tingginya animo masyarakat, transaksi pembelian emas batangan yang datang langsung ke Antam dibatasi hingga maksimal 150 nomor antrean per hari.
Berikut daftar harga emas yang dijual Antam:
* Pecahan 1 gram Rp 560.000
* Pecahan 5 gram Rp 2.655.000
* Pecahan 10 gram Rp 5.260000
* Pecahan 25 gram Rp 13.075.000
* Pecahan 50 gram Rp 26.100.0000
* Pecahan 100 gram Rp 52.150.000
* Pecahan 250 gram Rp 130.250.000
* Pecahan 500 gram Rp 260.300.000
(Ndw)

Sumber:http://bisnis.liputan6.com/read/2162873/harga-emas-antam-naik-lagi-rp-7000-per-gram

2015, Tahun Celaka Bagi Pengusaha Hotel & Resto

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) kehilangan gairah menatap pertumbuhan bisnis Meeting, Intensive, Converence and Exhibition (MICE) tahun ini karena dua aturan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK).
Direktur Eksekutif PHRI, Cyprianus Aoer mengungkapkan, pengusaha hotel dan restoran semakin terjepit dengan keluarnya aturan larangan rapat di hotel bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berlaku menjelang tutup tahun lalu.
Belum tuntas derita karena banyak paket pertemuan dibatalkan hingga berujung pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), pelaku usaha jasa ini kembali harus menelan pil pahit lantaran pemerintah menaikkan tarif batas bawah tiket pesawat terbang menjadi 40 persen.
"Akibat aturan tersebut, tentu kami kehilangan pendapatan. Dari sisi rupiah, belum diitung, tapi diperkirakan sekira 25 persen sampai 40 persen pendapatan hotel lenyap," keluh Cyprianus saat berbincang dengan Liputan6.com, Jakarta, seperti ditulis Senin (19/1/2015).
Dengan terbitnya dua aturan itu secara berdekatan, menurutnya, sangat merugikan pengusaha hotel dan restoran yang menjalani bisnis MICE. Sehingga dia menegaskan bahwa sepanjang 2015 akan menjadi tahun suram bagi industri yang selama ini menopang Produk Dometik Bruto (PDB) Indonesia.
"Dibanding tahun-tahun sebelumnya, tahun ini adalah tahun celaka buat hotel dan restoran," cetus dia.
Cyprianus mendesak pemerintah melalui Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) agar merevisi aturan larangan hotel agar tidak mengganggu bisnis hotel dan restoran.
Lebih jauh kata dia, antara MenPAN-RB dan Menteri Pariwisata telah menjalin koordinasi. Keduanya sepakat untuk meninjau kembali aturan tersebut. PHRI akan menunggu realisasi dari rencana revisi tersebut.
"Kami cuma bisa menunggu kapan bisa direvisi supaya kalau ada rapat PNS yang membutuhkan satu paket makan, minum, rapat, dan penginapan, bisa ke hotel. Karena biasanya ada diskon khusus. Tapi kalau yang cuma butuh kapasitas kecil bisa di kantor instansi pemerintah," harapnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya melaporkan, perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran PDB atas dasar harga mencapai Rp 2.480,8 triliun pada kuartal II-2014. Sedangkan PDB atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp 724,1 triliun.
Kepala BPS Suryamin menyebutkan, struktur PDB kuartal II-2014 didominasi sektor industri pengolahan, sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran masing-masing memberikan kontribusi sebesar 23,75 persen, 14,84 persen, dan 14,61 persen. (Fik/Ndw)

sumber:http://bisnis.liputan6.com/read/2162821/2015-tahun-celaka-bagi-pengusaha-hotel-amp-resto

Buruh Kembali Gelar Aksi Unjuk Rasa pada Pekan Ini

 Massa buruh akan kembali menggelar aksi unjuk rasa selama seminggu yang dimulai 21 Januari 2015 di sekitar Jabodetabek. Agenda yang dibawa sama oleh buruh ini sama seperti sebelumnya yaitu meminta kenaikan upah dan penghapusan sistem alih daya atau outsourcing.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, dengan diberlakukannya pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015 memiliki tujuan untuk meningkatkan nilai perdagangan dan kesejahteraan rakyat. Namun faktanya kebijakan pemerintahan saat ini pun belum berpihak kepada buruh yang dinilai menjadi tiang dalam MEA tersebut.
"Seperti masih mempertahankan kebijakan upah murah. UMP DKI Jakarta Rp 2,7 juta sangat jauh tertinggal dibandingkan Manila, Bangkok,dan Kuala Lumpur," ujar Said dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (19/1/2015).
Selain itu, sebagian besar BUMN juga masih menggunakan sistem outsourcing sehingga tidak ada jaminan pensiun bagi pekerja.
"Hingga hari ini pemerintah telah melanggar UU BPJS yang seharusnya November 2014 sudah selesai dibuat peraturan pemerintah tentang jaminan pensiun tapi belum ada sehingga buruh tidak dapat jaminan pensiun pada Juli 2015," lanjut dia.
Oleh karena itu, massa buruh yang dimotori KSPI akan melakukan aksi besar-besaran selama seminggu berturut-turut di seluruh Indonesia.  Untuk Jabodetabek, ribuan buruhakan menggelar aksi terus menerus di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan yang dimulai pada 21 Januari 2015. Sedangkan pada 12 provinsi lainnya dilakukan di depan kantor Gubernur masing-masing.
"Isu yang diangkat yaitu berlakukan upah layak dengan revisi jumlah item KHL (kebutuhan hidup layak) menjadi 84 item, sahkan RPP jaminan pensiun dengan iuran 15 persen dan manfaat 75 persen dari upah terakhir, serta hapus buruh outsourcing di BUMN," tandasnya. (Dny/Ahm)
sumber:http://bisnis.liputan6.com/read/2162871/buruh-kembali-gelar-aksi-unjuk-rasa-pada-pekan-ini