Halaman

Minggu, 22 April 2012

My Salty Sugar



            Dimanakah masa yang membuatmu betah berlama-lama dalam putaran waktunya? Yang seperti membuatmu tenggelam dan bermain dalam ‘area permainanmu’ sendiri tanpa mempedulikan realita yang terjadi disekelilingmu. Yang segalanya sesuai dengan aturanmu. Masa kecilkah? Atau mungkin masa SMA? Atau ketika kamu merasa memiliki seseorang atau sekumpulan orang-orang yang sepaham denganmu dan menjadi sahabat? Atau masa ketika kamu merasakan yang namanya jatuh cinta?

            Untukku….., aku tak ingat pasti bagaimana aku merasakan itu dan kapan. Karena pastinya kejadian-kejadian itu akan terjadi jamak dengan perbedaan cerita yang tunggal. Tunggu-sebentar! Apakah kalian juga demikian? Aku butuh jawaban. Agar aku tidak merasa janggal pada takdir dan kehidupan ku sendiri. Tapi aku tidak seabnormal itu untuk tidak mengingat bagian-bagian terbaik dalam hidupku. Saat ini aku merasa SMA adalah masa terbaikku, disana aku bertemu dengan my dejavu childhood yang sekarang telah menjadi my best fuckin’ mate to going make some crazy action (boyf) :p, dan sahabat-sahabat terbaikku dengan segala latar belakang dan watak yang mendewasakanku.
            Tetapi, pada detik setelahnya, aku malah tenggelam. Tenggelam pada kerumunan gumpalan gula-gula pada setiap jengkal bagian hidupku yang menyenangkan ini. Tapi aku merasa asing disini. Karena ….. hmmm pernahkah kalian merasa dalam suatu masa dimana sebenarnya itulah saat terbaik kalian melakukan berbagai hal yang menyenangkan, tapi keadaannya justru berbanding terbalik dengan keadaan yang ada? Jika kalian pernah itulah yang aku rasakan sekarang.
           Yang pasti memakan gula-gula yang kini menenggelamkan aku didalamnya saat ini, justru terasa asin.  Ya itulah hidup,  segala yang terjadi tak akan bisa dengan bijaksana berbanding lurus dengan mudahnya, karena kebijaksanaan itu sendiri. Tidakkah kalian merasa bingung dengan permainan kata yang sedang kumainkan ini? Tenang saja ini bukan berarti apa-apa, bukan juga dalam arti ‘permainan’ yang sebenarnya. Karena aku tidak sepicik itu. Ah, buang-buang waktu ya?
            Sebenarnya aku hanya mengutarakan ketidakjelasan definisi yang sedang bergulat dalam pikiranku sendiri. Klise. Anggap saja demikian. Aku hanya ingin benar-benar mendeskripsikan jalan pikiranku sesuai dengan definisi yang kubuat sendiri. Aku tidak memaksakan, lagipula setiap orang memiliki aturan, pemikiran dan definisinya sendiri, yang perorangnya memiliki 180 derajat bedanya. Jadi itulah yang membuat hidup kita-lebih-berwarna. Yang mungkin menjadi seceria jingga atau malah membanting arah menjadi kelabu seperti abu-abu.
            Untukku pria yang satu ini. Dia àILFAD :D adalah bagian pelangi yang beregradasi warna dari terang sampai gelap. Yang  senantiasa tak pernah bosan membuat aku tertawa, menangis, jengkel, atau merubahku menjadi psikopat, ya itulah dia. Salah satu bagian terbaik dari masa SMA ku. Pria yang unpredictable sikapnya. Kembali pada masa dimana saat kita pertama bertemu. Ingatkah kamu? oh how look I’m as a bitch this! :p. Saat itu aku hanya memperkenalkan diri dengan angkuhnya sikapku, tapi justru berbeda denganmu. Aku suka bagian ini. Rekamannya tak akan pernah rusak dan hilang dalam memoriamku.
            Benar-benar tidak pernah membuatku jenuh memfigurakan senyum manisnya itu. Layaknya sunset merah yang terbias lesu tetapi teduh. Sorot matanya itu, saat pertama dari kedekatan kami benar-benar menyorot sisi gelap dari keterpurukanku. Singkatnya ia menerimaku yang lusuh ini, apa adanya. Dan kata-kata ini ia selipkan pada telingaku yang sampai sekarang masih kokoh tertanam dan berdengung di telingaku:
“love based by the glorious of duty, still growth although the beauty has changed into grey, and the courage changed into the weakness”
          Ya hari berganti dengan bulan dan bulan berganti dengan tahun dan….. 2,5 tahun!  Cerita kami masih berlanjut sampai hari ini. Cerita bahagia, muram sampai tinju-tinjuan(ngga juga deh *kentut-kentutan). Dan hari itu aku benar-benar tidak bisa mentoleransi lagi sikap unpredictable-nya yang kelewat complicatedtable oleh seorang AKU yang sedang tidak bisa searah dengan prinsipnya. Kita berjalan dalam satu garis awalnya. Kemudian, ia memaki tempat berdiriku. Semua mata melihat sikapnya padaku saat itu. Perasaanku? Malu! Kemudian  aku mengejarnya, dan dia berlari. Aku putuskan, aku lelah. Aku tak akan pernah lagi mengejar larinya atau membuntut langkahnya. Mati rasa. Kita berlari berbeda arah. Kurenungkan tentang hari itu. Dia? Entahlah. Tapi kemudian ia kembali mencoba bicara padaku. membersihkan tempat berdiriku yang sebelumnya ia maki. Menjaga dua jarinya, telunjuk dan tengah secara bersama. “tak akan melakukan hal itu LAGI”. Kusimpan. Dan bahagianya dia menjaga janjinya itu. kuharap selamanya. Itulah gumpalan gula asinku yang pertama dalam hubungan antara insan berlawanan jenis yang dibalut anehnya rasa cinta yang manis atau juga sesekali keruh.
            Dan inilah yang selanjutnyaàSAHABAT. Sebelumnya, menurut kalian apa itu sahabat? Orang yang selalu ada disaat kita butuh? Orang yang selalu siap melepaskan pakaian dalamnya untuk diulurkan saat kamu akan jatuh kejurang? Atau siap menari perut dengan perut buncitnya hanya untuk membuatmu tertawa ? atau menolongmu untuk ‘kepentingan’ mu sendiri? hey sebentar! Jangan berpikir negative dulu ya pada definisi dan pertanyaan terakhirku ini. Karena walaupun sebenarnya banyak diluar sana yang menggunakan definisi itu, bukan itu maksudku. Yang kumaksud dengan ‘kepentingan’ itu adalah saat kamu membutuhkan dunia yang berbeda saat sedang bersama sahabat-sahabatmu dibanding dengan dunia seberangmu yang jauh berbeda, yang memuakkan-atau-menjenuhkan. Ya itu sekian definisi sahabat dariku. Seru? Ya aku sudah bilang dari awal, bahwa hidup tak akan bisa berbanding lurus dengan pikiran atau definisimu itu. Karena serunya punya sahabat, juga akan menjadi nuansa yang berbanding terbalik ketika kamu malah mencederainya.
            Maksudku, ehm……. (aku benar-benar butuh berpikir tentang hal ini). Karena kata yang satu  ini sedang mengacak-acak pikiranku ~RANDOM. Actually I need someone who could  flying their flag on my own mind, to make my own mind  being clear and straight. Tapi sayangnya, itu hanya jeritan yang tertahan pada tenggorokan keringku yang telah bernanah ini. Aku baru saja mencederai esensi dari persahabatan yang sebenarnya sudah dengan baik hati diberikan untukku. Ya itulah bodohnya aku. Si pemarah ini selalu berdiri pada jalan pikiran dan prinsipnya yang terlalu membatu HELL-O SELFISH. Tapi itu juga bukan salahku ya, salahkan saja masa laluku yang busuk itu. Tapi ini juga bukan pembelaanku. Aku juga tidak mengutarakannya kan? Ah SH*T back to the theme ya. 
            Ya yang tadi tentang persahabatan yang kurusak itu (oh my-holy-fucking-awkward!!!!!) Ya awalnya aku merasa ada yang berbeda pada sisi pribadi sahabat ku itu, aku menegurnya dengan bahasa yang sudah kusiapkan ratusan jam sebelumnya, karena menurutku pribadinya sudah sangat mengkhawatirkan. Terlebih beberapa waktu sebelumnya sahabat-sahabatku yang lain mengeluhkan sikapnya itu, dan dengan sok TAU dan DEWASA si pemarah dan bodoh ini, mencoba bicara kenapa? Dan apa yang terjadi? Dan…………..ya, dia hanya menatapku nanar sambil berlalu meninggalkan aku. HEYYYYYYYY I’m here sahabat! You throw me in the trash girl!!!!
            Setelah itu aku mencoba mengejarnya lagi. Dalam point-point angkuhnya itu, aku mencoba bicara lagi dengannya, tetapi ia  hanya menghempaskan setiap kata-kataku. Jujur saja seketika itu juga aku marah dan bilang padanya “aku tak akan lagi bicara padamu”. Padahal disaat yang bersamaan batinku teriak “HEH BODOH DIA SAHABATMU” , aku hanya diam dan kembali mengejarnya dan mencoba memperbaiki hubungan antar manusia yang kujalin dengannya. Dan dia malah melempar balik kata-kata yang telah ku lontarkan “loh bukannya anda tidak mau lagi bicara dengan saya? Masih pentingkah anda bicara dengan saya?” yup in that time I was fallin’  deep under to the hell. BIG SHIT CRAP IN MINE horaaaaay!!!!
            Saat itu aku mulai, hanya menganggap semua orang relasi menuju Tuhan. Tak ada lagi kedekatan secara harfiah dan ragawi yang aku tunjukkan pada mereka, atau bahkan hanya sekedar memanggil mereka teman atau sahabat. Bagiku itu cukup dalam batinku. Aku hanya ingin merdeka, tidak memiliki kepentingan. Ratusan kali mungkin aku pernah bicara ini kepada seseorang, alasannya hanya karena aku tidak ingin ada pihak yang merasa 'kugunakan'.
            Aku  tidak ingin sahabatku dibenci orang lain. Menurutku atau definisi si angkuh ini, jalan yang ku ambil adalah jalan yang terbaik. Untuk tidak lagi menunjukan rasaku terhadap orang-orang yang kuanggap sahabat. Aku bersedia membanting kemudiku untuk dibencinya. Karena dengan sikap yang kulakukan ini, membuatnya berhenti melakukan hal-hal yang bodoh yang menyebalkan kepada orang lain. Buatku, untuk sahabat-sahabatku. Lebih baik mereka membenciku. Membenci definisi hidupku. Dibanding sahabatku dibenci  orang lain. Lagipula, selama ini kebanyakan dari mereka tidak mengenalku seutuhnya. Mereka hanya mengenal namaku. Mereka hanya mengenal material dari wujud tubuhku, tanpa tau isinya. Yang terjadi atau mungkin perasaanku saja, semua orang bertanggapan sinis  dengan pilihan prinsip jalan hidupku diatas pikiran mereka. Kupikir lebih baik begitu.         
            Ya itulah hidup, menyia-nyiakan rasa manis gula yang kamu dapat dengan menambahkan garam-garam perselisihan akan menjadikan kemunduran untukmu sendiri. Walaupun saat itu (untukmu sahabat) maksudku hanya ingin membuatmu melihat hidup dari sisi yang berbeda. Tidak semua orang bisa kamu perlakukan seperti orang yang ‘menggunakanmu’.
            Tapi, semua harus kamu sadari bahwa setiap kepala kita berbeda. Setiap dada kita terselip rasa yang berbeda-beda. Dan tidak semua orang mengerti bahasa tersirat dengan gayamu (kalau yang ini khusus untukku). Kalau generalnya, tidak semua orang menginterpretasikan definisimu dengan sejalannya pikiranmu. Berusalah menghargai itu. Dan berusahalah mengetahui maksud baiknya. Jika tidak, kamu akan terperangkap. Dalam kerumunan gula, yang membunuhmu dengan asinnya. Ya inilah point sebenarnya, bahwa yang membuatmu dalam putaran permainanmu sendiri tanpa menyadari realita sekelilingmu bukan wujud material yang kutawarkan sebelumnya itu tetapi, adalah ketika kamu mendominasi segalanya dengan pemahaman dan definismu sendiri. That’s it. My salty sugar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar