Halaman

Minggu, 18 Januari 2015

OJK Minta Industri Jasa Keuangan Manfaatkan Arah Ekonomi Jokowi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar Pertemuan Tahunan Pelaku Industri Jasa Keuangan 2015. Dalam acara ini dihadiri pimpinan pelaku jasa keuangan seperti industri perbankan, pasar modal, industri keuangan non bank (IKNB) serta sejumlah asosiasi di industri jasa keuangan.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad mengatakan, industri jasa keuangan akan mengahadapi tantangan yang berat pada tahun ini. Dia bilang, untuk itu OJK akan memberikan arahan pada industri jasa keuangan.

"Ada tiga hal yaitu mengoptimalkan sektor perekonomian, meningkatkan daya tahan sektor jasa keuangan mewujudkan stabilitas perekonomian dan mendukung pembangunan berkelanjutan, serta meningkatkan akses keuangan dan kemandirian finansial masyarakat dalam mendukung pemerataan pembangunan," kata dia, Jakarta, Jumat (16/1/2014).

Lebih lanjut, program Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menggenjot infrastruktur harusnya menjadi momen yang baik bagi industri jasa keuangan. Untuk itu, pihaknya berinisiatif untuk mendorong pendanaan yang lebih besar untuk jangka panjang.

Terutama, kata dia pembiayaan dari pasar modal. "Kami menginginkan agar jumlah perusahaan termasuk BUMN memanfaatkan pendanaan melalui pasar modal di Indonesia, baik penjualan atau penerbitan ekuitas maupun surat utang," paparnya.

OJK juga telah menyiapkan inisiatif untuk pendalaman pasar modal terutama di sisi penawaran.

"Dalam meningkatkan pendalaman pasar modal terutama di sisi penawaran yaitu penyederhanaan proses penawaran umum, perluasan produk investasi untuk pembiayaan sektor tertentu dan peningkatan kulitas profesi, lembaga penunjang, perusahaan efek dan manajer investasi," tandas dia. (Amd/Gdn)

Sumber:http://bisnis.liputan6.com/read/2162031/ojk-minta-industri-jasa-keuangan-manfaatkan-arah-ekonomi-jokowi

Industri Asuransi RI Harus Terapkan 4 Hal Ini Biar Berkembang

Industri asuransi Nasional harus mampu bertahan di tengah gempuran industri asuransi asing. Mereka harus mengembangkan produk dan layanan agar tidak kalah bersaing dengan asuransi asing. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, ada empat langkah nyata yang bisa dilakukan oleh industri asuransi supaya bisa terus tumbuh.

Kepala Ekesekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK, Firdaus Djaelani mengatakan, penerapan good corporate governance (GCG) merupakan hal utama yang harus dimiliki oleh industri asuransi.

"Penerapan prinsip GCG di perusahaan asuransi,  jadi kalau kurang serius menerapkan ini maka akan sulit untuk bersaing. Konsumen punya hak untuk memilih," kata dia, Jakarta, Senin (19/1/2015).

Hal kedua, lanjut Firdaus, pentingnya peningkatan jumlah dan kualitas dari sumber daya manusia (SDM). Saat ini, meskipun jumlah SDM industri asuransi terus bertambah, namun tidak diikuti dengan perbaikan kualitas. Oleh sebab itu perlu adanya pengembangan kemampuan dari SDM. 

Ketiga penguatan kapasitas finansial atau permodalan. Dia mengatakan, jika modal tidak dikembangkan maka untuk melakukan pengembangan industri  asuransi akan sulit.

"Dulu pernah berpikir industri asuransi bukan industri padat modal, tapi kenyataannya demikian," katanya.

Terakhir adalah pembangunan sarana infrastruktur seperti standar asuransi dan teknologi informasi. "Untuk punya standar ini juga tidak mudah. Kita belum punya sarana bagus," tandas dia. (Amd/Gdn)
sumber:http://bisnis.liputan6.com/read/2162922/industri-asuransi-ri-harus-terapkan-4-hal-ini-biar-berkembang

Harga BBM Baru Berlaku 19 Januari 2015, Ini Alasannya

 Presiden Joko widodo (Jokowi) telah menurunkan harga BBM jenis premium dan solar mulai Senin, 19 Januari 2015 pukul 00.00 WIB.

Harga BBM jenis premium turun menjadi Rp 6.600 per liter dari sebelumnya Rp 7.600 per liter. Sedangkan solar turun menjadi Rp 6.400 per liter, dari Rp 7.250 per liter.

Menurut Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, harga baru premium dan solar baru berlaku mulai Senin, 19 Januari 2015 agar para pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tidak mengalami kerugian.
"Karena sekarang sudah punya stok dan biar stoknya dijual dan nanti membeli stok dengan harga baru," kata Sudirman Said di Istana Negara, Jakarta, Jumat (16/1/2015).

Sudirman juga menjelaskan, pemerintah akan meninjau kembali besaran harga BBM setiap dua minggu. "Jika tidak ada perubahan yang signifikan maka tidak diubah selama sebulan," terang dia. (Ndw)

Sumber:http://bisnis.liputan6.com/read/2161951/harga-bbm-baru-berlaku-19-januari-2015-ini-alasannya

BI Pertahankan BI Rate di Level 7,75%

Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga BI Rate di level 7,75 persen dengan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility masing-masing tetap pada level 8 persen dan  Deposit Facility 5,75 persen.

Direktur Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara menjelaskan, langkah dewan gubernur BI menahan suku bunga tersebut cukup konsisten dengan estimasi tekanan inflasi menuju ke sasaran 4 persen plus minus satu di 2015 ini. 

"Rapat Dewan Gubernur pada 15 Januari 2015 mempertahankan BI Rate 7,75, suku bunga Lending Facility tetap di level 8 persen  dan suku bunga Deposit Facility di level 5,75 persen, Kamis (15/1/2015). 

Tirta melanjutkan,dari evaluasi ekonomi Indonesia menyeluruh pada 2014, dan arah kebijakan 2015 itu dianggap konsisten untuk menuju sasaran inflasi empat persen plus minus satu persen. Hal itu mengendalikan defisit transaksi berjalan ke arah lebih baik.
"Stabilitas makro ekonomi yang terjaga sejalan dengan memperkuat fundamental ekonomi, dan reformasi struktural. Ke depan ekonomi Indonesia semakin baik, dengan stabilitas ekonomi yang makin terjadi. Semakin kuat reformasi struktural, kebijakan Bank Indonesia tetap akan menjaga inflasi, dan menjaga stabilitas keuangan," kata Tirta.


Langkah BI menahan bunga acuan tersebut sesuai dengan perkiraan para analis. Direktur PT Bahana TCW Asset Management, Budi Hikmat memperkirakan, BI Rate tetap di level 7,75 persen. Hal itu mengingat harga minyak dunia semakin tertekan. Apalagi harga minyak West Texas Intermedia (WTI) yang sentuh level US$ 45, sedangkan Pemerintah menetapkan harga minyak di kisaran US$ 70 di Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

"Sangat besar kemungkinan BI Rate tidak naik. Toh kalau turun BI mendorong pertumbuhan," tutur Budi saat dihubungi Liputan6.com.

Hal senada dikatakan Ekonom PT Standard Chartered Bank Indonesia, Eric Alexander Sugandi. Ia menuturkan, BI Rate bakal tetap di 7,75 persen dan fasilitas simpanan Bank Indonesia (Fasbi) di kisaran 5,75 persen.

Ia mengungkapkan, level BI Rate 7,75 persen merupakan level ideal untuk mengendalikan rupiah, current account defisit, dan inflasi.

"BI Rate tetap itu menjaga nilai tukar rupiah jadi kondusif, kurangi current account defisit, itu bagus. Di sisi lain pertumbuhan ekonomi melambat," kata Eric. (Dny/Ahm)

sumber:http://bisnis.liputan6.com/read/2161347/bi-pertahankan-bi-rate-di-level-775

Turunnya Harga Minyak Berimbas Pada Industri Perbankan

Harga minyak yang turun hingga di bawah level US$ 50 per barel ternyata tidak hanya berdampak kepada perusahaan energi saja. Diperkirakan, industri perbankan juga akan terkena getahnya.

Menengok ke belakang, ratusan bank di Texas, Amerika Serikat (AS), ditutup ketika negara tersebut ke dalam resesi pada tahun 1986. Saat itu, harga minyak juga mengalami penurunan tajam seperti saat ini. 

Pada periode 1980-an, merupakan periode yang mirip dengan saat ini dimana penurunan harga minyak mencapai level 50 persen. 

Mengutip CNN Money, Minggu (18/1/2015), industri perbankan banyak memberikan kredit kepada para perusahaan minyak dan gas (migas) pada periode 1980-an. kredit tersebut diberikan untuk membantuk perusahaan migas menemukan cadangan energi.

Bank-bank memanfaatkan kesempatan dimana terjadi booming ekonomi di wilayah yang cukup kaya dengan cadangan minyak seperti Texas dan North Dakota. 

Namun ketika resesi datang karena penurunan harga minyak, banyak bank akan merasakan akibatnya karena ikut memberikan pembiayaan kepada perusahaan-perusahaan pengebor minyak. 

Tak hanya itu, resesi kali itu juga berdampak kepada pemutusan hubungan kerja kepada para karyawan perusahaan migas. Dengan pemutusan hubungan kerja tersebut, imbas ke industri perbankan lebih dalam lagi. 

Para karyawan perusahaan migas yang mempunyai portofolio pinjaman kendaraan dan juga rumah akan sulit untuk mengembalikan dananya. 

"Banyak bank-bank dengan skala kecil di Texas da North Dakota menerima akibatnya. Pasalnya semua perekonomian di daerah tersebut dihidupi oleh industri migas," jelas analis bank Rafferty Capital Markets, Dick Bove.

"Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kemerosotan harga minyak saat ini akan membawa dampak yang cukup besar bagi industri perbankan," imbuhnya. (Gdn)

sumber:http://bisnis.liputan6.com/read/2162566/harga-minyak-turun-industri-perbankan-bakal-ikut-terimbas

Imbas Harga BBM murah ke Konversi BBG

Penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) diperkirakan akan mengganggu pengembangan program konversi BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG) yang sudah bertahun-tahun direncanakan oleh pemerintah.

Analis Energi dari Bower Group Asia, Rangga R. Fadillah mengungkapkan, semakin murahnya harga BBM akan menyulitkan pengembangan bahan bakar alternatif seperti gas.

"Harga minyak makin terjangkau membuat pengembangan energi alternatif tambah sulit," kata Rangga, di Jakarta, Minggu (18/1/2015).

Ia menambahkan, walaupun harga gas biasanya ikut turun merefleksi harga minyak dunia. Namun, pengembangan BBG memerlukan infrastruktur tambahan yaitu jaringan pipa dan alat pengubah konsumsi bahan bakar yang dipasang pada kendaraan (konverter kit). 

"Kelemahan BBG adalah membutuhkan infrastruktur tambahan  seperti converter kit yang mensyaratkan tambahan biaya bagi si pemakai," ungkapnya.

Karena itu, menurut Rangga, penurunan harga BBM akan menghambat pengembangan program konversi BBM ke BBG. Pasalnya, masyarakat lebih memilih menggunakan BBM yang saat ini lebih murah dan gampang.

"Agak sulit untuk dikembangkan secara masif karena mendingan pakai minyak aja, toh harganya lagi murah," pungkasnya. (Pew/Gdn)

Sumber:http://bisnis.liputan6.com/read/2162627/harga-minyak-murah-sulitkan-konversi-bbm-ke-bbg

DOLAR PERKASA RUPIAH LOYO

Nilai tukar rupiah masih terus melanjutkan pelemahan dan bergerak ke kisaran 12.759 per dolar Amerika Serikat (AS). Turunnya harga minyak yang diiringipenguatan dolar membuat rupiah kian tertekan.
Data valuta asing (valas) Bloomberg, Rabu (7/1/2015) menunjukkan nilai tukar rupiahmelemah 0,89 persen ke level 12.759 per dolar AS pada perdagangan pukul 9:59 waktu Jakarta. Nilai tukar rupiah tampak terus melemah dan sempat menyentuh level 12.773 per dolar AS.
Hingga menjelang siang, nilai tukar rupiah masih berfluktuasi melemah dan bergerak di kisaran 12.645 - 12.773 per dolar AS.
Sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah melemah ke level 12.732 per dolar AS. Rupiah terkoreksi cukup parah, 74 poin, dari perdagangan sebelumnya di level 12.658 per dolar AS.
Ekonom PT Samuel Sekuritas Indonesia Rangga Cipta menjelaskan, penguatan dolar ASmenyusul penurunan drastis harga minyak mentah jenis Brent ke kisaran US$ 51 per barel menjadi sentimen negatif bagi pergerakan rupiah. Selain itu, hasil rapat The Fed yang akan segera dirilis juga dianggap tak bakal mengurangi penguatan dolar AS.
"Kekhawatiran global dan harapan keluarnya Yunani dari zona Eropa juga terus menekan harga minyak jenis Brent yang akhirnya ikut membuat rupiah melemah," ujarnya.
Penguatan dolar di pasar global memang masih terus menekan pergerakan rupiah hingga perdagangan hari ini. (Sis/Ndw)

sumber:http://bisnis.liputan6.com/read/2157338/dolar-as-kian-perkasa-rupiah-makin-loyo